<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Katekase &#8211; Purbowardayan</title>
	<atom:link href="https://purbowardayan.com/category/katekase/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://purbowardayan.com</link>
	<description>Purbowardayan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 Jan 2025 04:51:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/08/png_20230110_145003_0000-100x100.png</url>
	<title>Katekase &#8211; Purbowardayan</title>
	<link>https://purbowardayan.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Merebak Virus Gen Z, Iman OMK di Ujung Jari, Ayo Bergerak!</title>
		<link>https://purbowardayan.com/2025/01/20/merebak-virus-gen-z-iman-omk-di-ujung-jari-ayo-bergerak/</link>
					<comments>https://purbowardayan.com/2025/01/20/merebak-virus-gen-z-iman-omk-di-ujung-jari-ayo-bergerak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Jan 2025 13:14:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Katekase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://purbowardayan.com/?p=4270</guid>

					<description><![CDATA[SURAKARTA &#8211; Di tengah pergulatan zaman lahir generasi yang turut mewarnai Gereja, transformasi zaman membawa dampak besar bagi kecakapan anak muda. Gereja hadir dihadapkan dengan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div><strong><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">SURAKARTA &#8211;</span></span></strong><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> Di tengah pergulatan zaman lahir generasi yang turut mewarnai Gereja, transformasi zaman membawa dampak besar bagi kecakapan anak muda. </span></span></div>
<div><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Gereja hadir dihadapkan dengan beragam generasi, kolonial hingga milenial. Zoomers, sebutan kece untuk Gen Z, generasi flamboyan harapan masa depan dan masa kini Gereja. </span></span></div>
<div><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Orang Muda Katolik (OMK) saat ini didominasi oleh Gen-z. </span></span></div>
<div></div>
<div><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Sebagai informasi, Gen Z sendiri adalah mererka yang saat ini memasuki usia 8-23 tahun. </span></span><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Usia tersebut cukup labil untuk menjejaki kedewasaan iman, kegoyahan batin membawa OMK Gen Z terjebak oleh “virus” yang mendominasi pada lunturnya penghayatan iman.  </span></span><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Apakah harapan akan menjadi titik terang? Gereja terus mengikuti perkembangan zaman meski dengan berbagai tuntutan generasi.</span></span></div>
<div></div>
<div><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Gereja merindukan kehadiran OMK yang menggembirakan, tidak sedikit Gereja berlengan karena perjumpaan dengan OMK yang semakin kendor.  </span></span><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Gereja terus menyapa, namun virus telah melekat dalam diri OMK, seolah menjadi momok yang terus menghantui.  </span></span><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Lalu, apa yang membuat mereka rikuh berkunjung ke Gereja? Ternyata ada penyakit yang sulit dihindari menjadi faktor merebaknya virus ini.</span></span></div>
<div></div>
<div><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">        Mager, malas gerak. Banyak alasan yang dikeluarkan bila terdengar ajakan melayani, faktanya memang benar bahwa Gen Z adalah generasi milenial yang terbawa oleh perubahan sosial, malas dengan ajakan Gereja tapi tidak dengan ajakan untuk sekedar mencuci mata, kesenangan duniawi menyihir niat OMK akan kerinduan Tuhan dalam hati. Mager menjadi penyakit pertama dari tiga virus lainnya. Acuh tak acuh, sikap apatis OMK terhadap lingkungan Gereja menjadi kekhawatiran banyak orang, ya, mereka cenderung bodo amat dan tidak mau ambil pusing terhadap persoalan Gereja.</span></span></div>
<div></div>
<div><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">        Tekanan zaman membuat OMK Gen Z tidak mau ketinggalan, Fear of Missing Out (FOMO) atau mudahnya ikut-ikutan. Sulit mencari hubungan bagi orang muda tak hanya OMK, dengan FOMO rasanya mudah menjalin hubungan erat dengan rekan sebaya, seringkali tren ini menjadi acuan untuk pergi bersama mengikuti rekan akrabnya. Baik jika ajakan itu menuju ke Gereja, namun hal ini tidak bisa menjadi tolok ukur untuk terus bergantung karena mempengaruhi kedewasaan iman OMK. Virus terakhir adalah kemalasan, kemalasan produktivitas OMK, bisa bersumber dari ketidakpercayaan atas kemampuan yang dimiliki, banyak jawaban OMK untuk menolak tawaran pelayanan karena tidak memiliki gairah, keraguan menjadi alasan mengapa OMK malas untuk aktif menggereja.</span></span></div>
<div></div>
<div><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">        Masih banyak penyakit Gen Z yang menyebar, persebaran penyakit ini menjadi virus yang tidak asing lagi bagi generasi muda. Terlihat sepele namun sangat berkesan bagi Gereja, OMK menjadi harapan masa depan dan masa kini Gereja. Oleh karena itu, dukungan sangat diperlukan. OMK beranggotakan pemuda-pemudi, usia mereka mudah terhasut oleh pendengaran dan penglihatan, maka memberikan label bahwa OMK padam adalah kesalahan besar, mereka membutuhkan perhatian dengan tidak menilai egois atas apa yang dipilih.</span></span></div>
<div></div>
<div><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">        Kegiatan OMK sangat beragam bahkan sebagian program dilaksanakan hingga larut malam, hal inilah yang menjadi kebimbangan OMK. Jam malam dan izin orang tua kerap kali menjadi tantangan OMK untuk mengambil bagian dalam keaktifannya, sayangnya alasan ini dianggap egois dan menjadi perbincangan banyak orang. Bisa saja faktor ini yang menjadi penyebab terjadinya virus OMK dan lengangnya Gereja.</span></span></div>
<div></div>
<div><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">        Selanjutnya langkah apa yang dapat diambil? Diperlukan karena kesadaran sudah selayaknya OMK sebagai tunas muda membuat Gereja lebih hidup, begitu juga dengan dorongan orang tua serta lingkungan sekitar. Gereja juga harus ikut mengusahakan, memberi panggung untuk OMK berkarya bukan tuntutan yang membebani kreativitas mereka. Sehingga OMK Gen Z merasa dipercaya atas dukungan dan dorongan yang diberikan.</span></span></div>
<div></div>
<div><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">        Meski begitu, tak sedikit kaum muda yang sudah terlebih dahulu bergerak untuk menghidupkan Gereja. Mereka dengan inisiatif tinggi ingin menjawab kebutuhan pastoral atau Gereja. Tujuan tak lain dan tak bukan adalah sebagai bentuk regenerasi agar Gereja selalu hidup dan tetap eksis di masa mendatang.</span></span></div>
<div></div>
<div><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">       Mereka yang aktif mulai bergerak di beberapa kelompok kategorial dan bidang-bidang pelayanan di Gereja, di antaranya seperti Lektor, Gamelan, Paduan Suara, KOMSOS dan masih banyak lagi yang lainnya.</span></span></div>
<div><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Mereka-mereka yang aktif ini diharapkan bisa menjadi penggerak dan menjadi teladan bagi kaum muda agar mau terlibat dan membangun Gereja di masa yang akan datang.</span></span></div>
<div><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Mari bersama mendukung perluasan tangan Tuhan melalui OMK sebagai masa depan dan masa kini Gereja, kita hidupkan jiwa muda agar harapan menjadi titik terang yang membawa berkat bagi umat-Nya. </span></span><em><strong><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">(Rufina/Postulan SDP)</span></span></strong></em></div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://purbowardayan.com/2025/01/20/merebak-virus-gen-z-iman-omk-di-ujung-jari-ayo-bergerak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aktif Ke Gereja Gara-gara Fomo? Mengulik tren FOMO di Kalangan Orang Muda Katolik</title>
		<link>https://purbowardayan.com/2024/11/01/aktif-ke-gereja-gara-gara-fomo-mengulik-tren-fomo-di-kalangan-orang-muda-katolik/</link>
					<comments>https://purbowardayan.com/2024/11/01/aktif-ke-gereja-gara-gara-fomo-mengulik-tren-fomo-di-kalangan-orang-muda-katolik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 Nov 2024 07:07:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Paroki]]></category>
		<category><![CDATA[Katekase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://purbowardayan.com/?p=4109</guid>

					<description><![CDATA[SURAKARTA &#8211; Pada era sekarang ini, tren kehidupan semakin beragam, dengan istilah yang beragam pula. Satu di antara tren kehidupan yang tengah marak dan santer [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><strong>SURAKARTA</strong> &#8211; Pada era sekarang ini, tren kehidupan semakin beragam, dengan istilah yang beragam pula. Satu di antara tren kehidupan yang tengah marak dan santer yang dibahas saat ini adalah FOMO.</span></span></span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Natalie Christine Dattilo, Ph.D, pendiri Priority Wellness Group dan instruktur psikologi di Harvard alam keterangannya di majalah Forbes Health mengungkap soal FOMO.</span></span></span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Secara psikologi, FOMO mencangkup persepsi ketakutan akan kehilangan sesuatu, yang memicu </span></span></span></span><br />
<span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">kecemasan, dan perilaku kompulsif.</span></span></span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Erin Vogel, Ph.D., seorang psikolog sosial dan profesor madya di University of Oklahoma Health Sciences Center juga menekankan bahwa FOMO dapat mempengaruhi harga diri seseorang.</span></span></span></span></p>
<blockquote><p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">“Ketika kita merasa menjadi bagian dari suatu komunitas dan orang lain </span></span></span></span><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">yang menyetujui kita, kita akan merasa lebih baik tentang diri kita sendiri. Ketika kita tidak mendapatkan rasa persetujuan dari komunitas, kita akan merasa lebih buruk tentang diri kita </span></span></span></span><br />
<span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">sendiri,” katanya.</span></span></span></span></p></blockquote>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Salah satu komunitas yang mempengaruhi harga diri seseorang adalah lingkungan keagamaan, yang menjadi bagian dari diri mereka.</span></span></span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Salah satu lingkungan keagamaan tersebut adalah Gereja. Sehingga menjadi mungkin bahwa tren FOMO masif terjadi di Gereja.</span></span></span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Sebagian besar Gereja kini telah kehilangan kehadiran mudaka atau sering disebut OMK (Orang Muda Katolik,-red).</span></span></span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Mereka mau atau tertarik untuk terlibat dalam hidup menggereja karena tren FOMO.</span></span></span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Banyak OMK yang tidak aktif, merasa FOMO ketika melihat teman mereka sesama kaum </span></span></span></span><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">muda lebih aktif dalam kegiatan menggereja.</span></span></span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Alhasil, mereka akhirnya tertarik </span></span></span></span><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">untuk ikut terlibat dalam berbagai kegiatan di Gereja.</span></span></span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Berawal dari tertarik untuk terlibat, </span></span></span></span><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">mereka menjadi sungguh-sungguh terlibat dalam kegiatan di Gereja.</span></span></span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Romo Yoseph Supriyanto, Pr selaku Romo Paroki Gereja Santa Maria Regina, Purbowardayan, Surakarta tak menampik bahwa tren FOMO ini juga merajalela di kaum muda tempat ia saat ini berkarya.</span></span></span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Romo Yoseph Supriyanto, Pr atau yang disapa Romo Supri menyatakan bahwa fenomena FOMO di kalangan mudika parokinya merupakan sebuah awal yang baik.</span></span></span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Namun, ia berharap, bahwa motivasi itu dapat dimurnikan sehingga OMK mendapatkan jati diri dan mengetahui apa alasan serta tujuan mereka mau terlibat aktif dalam hidup menggereja.</span></span></span></span></p>
<blockquote><p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">“Motivasi awal untuk mau terlibat sudah baik, tapi diharapkan dalam perjalanan mereka menemukan kenapa tah saya kok mau ikut ini, dari segi persaudaraan, segi </span></span></span></span><br />
<span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">iman, dari segi menggereja itu manfaatnya bagi saya apa? Nanti lama-kelamaan muda akan bisa menangkap yang namanya kebatinan pastoral di dalam gereja, maka mau ada teman atau ndak ada teman mereka akan tetap datang ke gereja,” tutur Romo Supri.</span></span></span></span></p></blockquote>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Maka dampak baik dan harapan Romo Supri adalah, bila bisa dikembangkan dengan baik akan menjadikan Gereja kembali gemerlap </span></span></span></span><br />
<span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">dengan kehadiran kaum muda di dalamnya.</span></span></span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Kaum muda yang telah aktif terlibat di gereja saat ini perlu didorong untuk memberikan gambaran yang menarik mengenai keterlibatan aktif di gereja kepada teman-teman yang mereka miliki, agar teman mereka tertarik dan ikut aktif dalam kegiatan menggereja.</span></span></span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Terkadang kala kita memang perlu menciptakan fenomena di sekitar kita jika memang itu baik adanya.</span></span></span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Baik pula bagi kaum muda untuk mau aktif dalam kegiatan menggereja agar kehidupan rohaninya semakin teratur dan bisa bersahabat dengan sesama. Berkah Dalem. <em><strong>(Brigita Sekar/Pra-Postulan SDP)</strong></em></span></span></span></span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://purbowardayan.com/2024/11/01/aktif-ke-gereja-gara-gara-fomo-mengulik-tren-fomo-di-kalangan-orang-muda-katolik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MENGAPA ROMO DAN BIARAWAN/BIARAWATI TIDAK MENIKAH?</title>
		<link>https://purbowardayan.com/2024/07/28/mengapa-rama-dan-biarawan-biarawati-tidak-menikah/</link>
					<comments>https://purbowardayan.com/2024/07/28/mengapa-rama-dan-biarawan-biarawati-tidak-menikah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Jul 2024 06:30:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Katekase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://purbowardayan.com/?p=3957</guid>

					<description><![CDATA[KOMSOS.PURBOWARDAYAN – Di dalam Gereja Katolik, ada beberapa tokoh Gereja seperti romo (pastur/imam), bruder (biarawan), dan suster (biarawati). Seperti yang kita ketahui, orang-orang seperti mereka [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KOMSOS.PURBOWARDAYAN</strong> – Di dalam Gereja Katolik, ada beberapa tokoh Gereja seperti romo (pastur/imam), bruder (biarawan), dan suster (biarawati). Seperti yang kita ketahui, orang-orang seperti mereka tidak menikah. Namun, terkadang kita bertanya-tanya tentang mengapa mereka tidak menikah? Apa saja alasan yang mendasarinya?</p>
<p>Yang pertama, adalah karena <strong>kaul</strong>. Para romo, bruder, dan suster tidak menikah karena mereka terikat pada <strong>Kaul (sumpah) Kemurnian</strong> atau <strong>selibat</strong>, bersama dengan dua Kaul lainnya yakni Kaul Ketaatan dan Kaul Kemiskinan. Kaul Kemurnian merupakan sumpah untuk tidak menikah dengan tujuan menjaga kemurnian diri.</p>
<p>Kedua, adalah karena <strong>pengabdian total</strong>. Dengan Kaul Kemurnian, para romo, bruder, dan suster bermaksud dan bertekad untuk mengabdikan diri sepenuhya, secara total hanya kepada Tuhan dalam pelayanan dan kehidupannya.</p>
<p>Ketiga, adalah demi <strong>Kerajaan Surga</strong>. Dalam Injil Matius 19:12, dikatakan dengan jelas bahwa “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga…”. Dari ketiga jenis orang tersebut, para romo, bruder, dan suster merupakan kelompok orang jenis ketiga, yaitu orang-orang yang tidak menikah oleh karena keinginannya sendiri, dan demi Kerajaan Surga dengan mengabdikan diri seutuhnya kepada Tuhan.</p>
<p>Katekese oleh: Rm. Robertus Budiharyana, Pr (Komsos.Purbowardayan)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://purbowardayan.com/2024/07/28/mengapa-rama-dan-biarawan-biarawati-tidak-menikah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MENGAPA ORANG KATOLIK MENELADANI SANTO/SANTA?</title>
		<link>https://purbowardayan.com/2024/07/05/mengapa-orang-katolik-meneladani-santo-santa/</link>
					<comments>https://purbowardayan.com/2024/07/05/mengapa-orang-katolik-meneladani-santo-santa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jul 2024 06:30:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Katekase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://purbowardayan.com/?p=3864</guid>

					<description><![CDATA[KOMSOS.PURBOWARDAYAN – Dalam Kekristenan, utamanya Gereja Katolik Roma, istilah Santo (bagi wanita: Santa) diberikan kepada seseorang yang telah terbukti menjalani hidup dengan kebajikan yang heroik, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KOMSOS.PURBOWARDAYAN</strong> – Dalam Kekristenan, utamanya Gereja Katolik Roma, istilah Santo (bagi wanita: Santa) diberikan kepada seseorang yang <strong>telah terbukti menjalani hidup dengan kebajikan yang heroik,</strong> <strong>atau disebut juga suci (kudus)</strong>. Istilah ini bisa digunakan kepada orang hidup, dan mati, dan diterima dalam dunia agama. Dalam tradisi iman Kristen tertentu lainnya, orang suci adalah orang yang dikenal karena “kesucian heroiknya” dan dianggap berada di Surga. Pada abad ke-10, Paus Yohanes XV meresmikan proses identifikasi orang-orang kudus.</p>
<p>Peran para Santo atau Santa Katolik saat ini adalah bertindak sebagai pembimbing spiritual, pembimbing, dan teladan iman. Karena diyakini berada di Surga, banyak orang Kristen berdoa agar orang-orang kudus menjadi perantara bagi mereka karena berbagai alasan. <strong>Adalah suatu kesalahpahaman bahwa umat Katolik menyembah orang-orang kudus.</strong></p>
<p>Lantas, mengapa orang-orang Katolik hidupnya berusaha meneladan para Santo atau Santa pelindungnya, entah dalam Baptis, Krisma, atau nama Biara bagi para biarawan/biarawati? Nama Baptis, nama Krisma atau nama Biara, mengingatkan orang yang bersangkutan bahwa ia tergabung dengan Kristus dan menjadi anggota Gereja, sebagaimana yang dilakukan oleh para tokoh Gereja Katolik atau Santo-Santa yang namanya dipakai/diberikan pada saat pembaptisan, menerima minyak Krisma, atau memulai hidup religius sebagai biarawan/biarawati, membantu dalam mengenal cinta kasih agar semakin dekat dengan Kristus. Selain itu dengan meneladan hidup para Santo atau Santa/orang Kudus, kita semua sebagai orang Katolik berharap bahwa hidup kita menjadi baik, berkenan pada Tuhan dan sesama dan menginspirasi hidup banyak orang di sekitar kita. Dengan kata lain hidup dan keberadaan kita menjadi berkat atau membawa berkat bagi sesama (menjadi Garam &amp; Terang Dunia).</p>
<p>Katekese oleh: Sr. M. Yuliana, SFS (Komsos.Purbowardayan)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://purbowardayan.com/2024/07/05/mengapa-orang-katolik-meneladani-santo-santa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>APA PENTINGNYA BERDEVOSI?</title>
		<link>https://purbowardayan.com/2024/06/11/apa-pentingnya-berdevosi/</link>
					<comments>https://purbowardayan.com/2024/06/11/apa-pentingnya-berdevosi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Jun 2024 07:30:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Katekase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://purbowardayan.com/?p=3813</guid>

					<description><![CDATA[KOMSOS.PURBOWARDAYAN – Devosi berasal dari kata Latin devotio yang berarti mencintai, menyerahkan diri, dan menghormati seseorang atau sesuatu. Berdevosi berarti memiliki cinta dan menyerahkan diri dengan sepenuh [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KOMSOS.PURBOWARDAYAN</strong> – <strong><em>Devosi</em></strong> berasal dari kata Latin <em>devotio</em> yang berarti mencintai, menyerahkan diri, dan menghormati seseorang atau sesuatu. Berdevosi berarti memiliki cinta dan menyerahkan diri dengan sepenuh hati pada seseorang atau sesuatu itu. Secara sederhana, <strong>devosi</strong> adalah suatu sikap bakti berupa penyerahan seluruh pribadi kepada Allah dan kehendak-Nya sebagai perwujudan cinta kasih secara teratur dan tetap, dengan kata lain kebaktian khusus. Contoh devosi adalah devosi kepada Sakramen Mahakudus, Bunda Maria, Hati Yesus, dan lainnya. Bentuknya seperti rosario, doa Tiga Salam Maria, Koronka Kerahiman Ilahi, Jalan Salib, Litani Hati Kudus Yesus, dan bentuk-bentuk lainnya.</p>
<p>Devosi tidak termasuk dalam liturgi resmi Gereja, tetapi devosi <strong>dianjurkan</strong> oleh Gereja untuk ditekuni oleh umat beriman. Devosi dapat membantu menghayati iman dan mempersiapkan hati untuk merayakan liturgi. Orang yang devosinya kuat biasanya memiliki penghayatan liturgi yang lebih baik, dan hal itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Devosi dapat membantu untuk pikiran dan hati umat untuk terbiasa dalam suasana doa, suasana hening yang menghantar umat pada kedalaman hati, misalnya bisa membantu umat mengikuti perayaan Ekaristi dengan penuh penghayatan. Dalam melaksanakan devosi, umat diberi kelonggaran oleh Gereja. Praktik devosi tidak terikat waktu, jumlah, tempat, dan lainnya. Bagi Gereja, yang paling penting adalah umat dapat berdoa dengan sungguh-sungguh dan penuh penghayatan.</p>
<p>Adapun <strong>tujuan</strong> devosi antara lain: mampu menggairahkan iman dan kasih kepada Allah, mampu mengantar umat pada penghayatan iman yang benar akan misteri karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus, mampu mengungkapkan dan meneguhkan iman terhadap salah satu kebenaran misteri iman, dan mampu memperoleh buah-buah rohani. Maka diharapkan setiap umat beriman memiliki kebiasaan untuk melaksanakan devosi. Umat yang sudah memiliki kecintaan akan devosi nantinya bisa merasakan makna dan manfaatnya dalam kehidupan mereka.</p>
<p>Umat memiliki devosi yang kuat itu memang baik dan menjadi anjuran dari Gereja. Akan tetapi, dalam menjalankan devosi ada beberapa hal yang perlu <strong>diwaspadai</strong>. Yang pertama, devosi tidak pernah dipandang sebagai pengganti liturgi, sebab sudah ada tingkatannya masing-masing. Dari seluruh liturgi resmi gereja, Perayaan Ekaristi merupakan liturgi yang tertinggi, sesudah itu menyusul sakramen-sakramen yang lain. Namun, praktek devosi dapat dihubungkan dengan liturgi resmi, seperti novena dalam Perayaan Ekaristi. Yang kedua, devosi harus dijauhkan dari praktek magis. Hal ini terjadi jika orang memandang kekuatan dan daya pengudusan berasal dari barang tertentu seperti patung, dan lainnya. Memiliki kebiasaan devosi itu baik, tetapi perlu untuk tetap memperhatikan aturan yang ada, jangan sampai terlalu dalam penghayatan akan devosi membuat umat jadi menyalahi liturgi Gereja yang ada.</p>
<p>Katekese oleh: Fr. Paulus Sih Nugroho, Pr (Komsos.Purbowardayan)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://purbowardayan.com/2024/06/11/apa-pentingnya-berdevosi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Tradisi &#8216;Wilujengan&#8217; di HUT Paroki Purbowardayan</title>
		<link>https://purbowardayan.com/2023/11/29/mengenal-tradisi-wilujengan-di-hut-paroki-purbowardayan/</link>
					<comments>https://purbowardayan.com/2023/11/29/mengenal-tradisi-wilujengan-di-hut-paroki-purbowardayan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Nov 2023 15:42:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Paroki]]></category>
		<category><![CDATA[Katekase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://purbowardayan.com/?p=3583</guid>

					<description><![CDATA[KOMSOS.PURBOWARDAYAN &#8211; Wilujengan adalah satu di antara rangkaian kegiatan HUT (Hari Ulang Tahun) Gereja Katolik St. Perawan Maria Regina Purbowardayan, Surakarta. Termasuk, dalam rangka HUT [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KOMSOS.PURBOWARDAYAN</strong> &#8211; Wilujengan adalah satu di antara rangkaian kegiatan HUT (Hari Ulang Tahun) Gereja Katolik St. Perawan Maria Regina Purbowardayan, Surakarta.</p>
<p>Termasuk, dalam rangka HUT Paroki ke-62 pada Sabtu (25/11/2023) kemarin.</p>
<p>Acara berlangsung meriah dan khidmat dengan hadirnya beberapa pemimpin serta tokoh lintas agama.</p>
<p>Para pemimpin agama tersebut bersama-sama mendoakan yang terbaik untuk paroki Purbowardayan, terkhusus di ulang tahunnya yang ke-62.</p>
<p>Tradisi wilujengan itu sendiri sudah lama dilaksanakan Paroki Purbowardayan dalam menyambut hari jadinya.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" width="300" height="200" class="alignnone size-medium wp-image-3585" src="https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_9941-300x200.jpg" alt="" srcset="https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_9941-300x200.jpg 300w, https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_9941-1024x683.jpg 1024w, https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_9941-768x512.jpg 768w, https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_9941-600x400.jpg 600w, https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_9941-1536x1024.jpg 1536w, https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_9941-2048x1365.jpg 2048w, https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_9941-958x639.jpg 958w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Wilujengan itu sendiri diartikan sebagai selametan yang berarti memohon kepada Bapa agar umat Purbowardayan senantiasa diberi keselamatan.</p>
<p>Hal itu diungkap oleh Ketua Panita HUT dari Jagalan Barat, Ignatius Catur Setyadi ketika dikonfirmasi, Rabu (29/11/2023).</p>
<p>Ia menambahkan, dengan adanya acara wilujengan, umat diberi keselamatan jiwa dan raga dalam memperingati dan merayakan HUT Paroki.</p>
<p>Baik itu dalam bentuk fisik (bangunan gereja,-red) maupun umatnya.</p>
<blockquote><p>&#8220;Maksud dari kata gereja adalah bangunan dan umatnya. Sehingga dengan kita mengadakan wilujengan semoga dengan memperingati hari jadi gereja kita, kita (bangunan gereja dan umatnya) selalu dalam lindungan Bapa Yg Maha Kasih,&#8221; kata pria yang kerap disapa Catur tersebut.</p>
<p><img decoding="async" width="300" height="200" class="alignnone size-medium wp-image-3584" src="https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_0058-300x200.jpg" alt="" srcset="https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_0058-300x200.jpg 300w, https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_0058-1024x683.jpg 1024w, https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_0058-768x512.jpg 768w, https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_0058-600x400.jpg 600w, https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_0058-1536x1024.jpg 1536w, https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_0058-2048x1365.jpg 2048w, https://purbowardayan.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG_0058-958x639.jpg 958w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p></blockquote>
<p>Ia berharap, baik bangunan maupun umatnya bisa terhindar dari segala hal buruk, termasuk bencana alam.</p>
<p>Sehingga, seluruh umat bisa terus memuji dan memuliakan nama Tuhan, baik dalam kegiatan menggereja ataupun mengikuti perayaan Ekartisti.</p>
<blockquote><p>&#8220;Terutama Romo (Pastor) dan pengurus gereja selalu diberi kesehatan sehingga bisa menjadi nahkoda gereja dengan baik,&#8221; lanjut catur. <em><strong>(Komsos.Purbowardayan)</strong></em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://purbowardayan.com/2023/11/29/mengenal-tradisi-wilujengan-di-hut-paroki-purbowardayan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setiap Gerakku Memiliki Makna</title>
		<link>https://purbowardayan.com/2023/10/22/setiap-gerakku-memiliki-makna/</link>
					<comments>https://purbowardayan.com/2023/10/22/setiap-gerakku-memiliki-makna/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Oct 2023 16:33:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Katekase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://purbowardayan.com/?p=3466</guid>

					<description><![CDATA[KOMSOS.PURBOWARDAYAN &#8211; Setiap kali kita mengikuti perayaan liturgis seperti Ekaristi, Ibadat Sabda maupun perayaan devosional tentu akan menggerakkan sebagian anggota tubuh kita. Baik itu Imam, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div><strong>KOMSOS.PURBOWARDAYAN</strong> &#8211; Setiap kali kita mengikuti perayaan liturgis seperti Ekaristi, Ibadat Sabda maupun perayaan devosional tentu akan menggerakkan sebagian anggota tubuh kita.</div>
<div></div>
<div>Baik itu Imam, selaku pemimpin ibadat hingga umat sekalipun akan melakukannya.</div>
<div></div>
<div>Sebagai contoh, ketika berada di depan tabernakel, setiap pribadi melakukan gerak berlutut.</div>
<div></div>
<div>Contoh lain ialah saat menebahkan dada ketika mendoakan doa tobat.</div>
<div></div>
<div>Namun, ternyata, setiap gerak-gerik atau gerak tubuh yang kita lakukan selama mengikuti perayaan liturgis memiliki sebuah makna</div>
<div></div>
<div>Bahkan, tata gerak &#8216;duduk&#8217; yang kerap kita praktikan saat Misa dan perayaan liturgis lainnya pun memiliki sebuah makna.</div>
<div></div>
<div>Ada 10 tata gerak dalam liturgi dan seluruhnya memiliki makna, di antaranya adalah:</div>
<div></div>
<div><strong>Berjalan</strong></div>
<div></div>
<div>Berjalan merupakan ungkapan hakikat umat Allah yang sedang berziarah dan bergerak menuju tanah surgawi, tanah air sejati dan juga merupakan ungkapan kesiapsediaan kita untuk secara aktif menyambut dan menanggapi tawaran kasih karunia Allah yang selalu ada di depan kita.</div>
<div></div>
<div></div>
<div><strong>Berdiri</strong></div>
<div></div>
<div>Berdiri mengungkapkan perhatian, kepedulian, penghormatan dan kesiapsediaan terhadap kehadiran Tuhan melalui diri pemimpin ibadat, sabda, dan doa. Berdiri juga melambang kan situasi dan keberadaan orang-orang Kristen sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan oleh Kristus.</div>
<div></div>
<div><strong>Duduk</strong></div>
<div></div>
<div>Duduk melambangkan kesiapsediaan umat beriman untuk mendengarkan sabda Tuhan, dan bagi pemimpin liturgi resmi seperti uskup dan imam duduk juga mengungkapkan martabat nya sebagai seorang pemimpin atau pengajar umat beriman.</div>
<div></div>
<div><strong>Berlutut dan Membungkuk</strong></div>
<div></div>
<div>Berlutut dan membungkuk melambangkan hal yang sama yaitu sikap penghormatan, segan, kerendahan hati, ketidakpantasan, pertobatan, dan bahkan ungkapan penyembahan kepada Allah. Antara berlutut dan membungkuk dibedakan dalam hal intensitas. Berlutut mengungkapkan intensitas penghormatan dan ungkapan kerendahan yang lebih dalam dibandingkan dengan membungkuk. (Catatan: ungkapan penghormatan tidak selalu harus dibatasi dengan gerakan berlutut dan membungkuk, tetapi harus disesuaikan dengan budaya setempat).</div>
<div></div>
<div><strong>Meniarap (prostratio)</strong></div>
<div></div>
<div>Meniarap mengungkapkan ketidakpantasan, kerapuhan, kelemahan, penghormatan, dan kerendahan hati di hadapan Allah secara paling intensif dan dilakukan dalam rangka suatu permohonan yang sangat penting.</div>
<div></div>
<div><strong>Tangan terkatup, terangkat, dan terentang</strong></div>
<div></div>
<div>Tangan adalah alat utama tubuh manusia. Hampir semua aktivitas manusia tidak bisa dilepaskan dengan tangan, maka gerakan tangan mengungkapkan seluruh tindakan diri manusia.</div>
<div>Tangan terkatup melambangkan perjumpaan antara Allah dan manusia, sikap hormat, permohonan dan penyerahan diri manusia kepada Allah. Tangan terangkat dan terentang mengungkapkan sikap kesiapsediaan dan keterbukaan terhadap Allah, ketidak-berdayaan, kekosongan, kemiskinan, penyerahan.</div>
<div></div>
<div><strong>Penumpangan Tangan</strong></div>
<div></div>
<div>Penumpangan tangan mengungkapkan permohonan dan pencurahan Roh Kudus dan berkat, pelimpahan kuasa atau wewenang kepemimpinan untuk tugas menggembalakan, mengajar, dan menguduskan, (Bil 27:18-23, Kej 48:14-20, Kis 8:17, Kis 6:6, Kis 13:3).</div>
<div></div>
<div><strong>Tanda Salib dan Berkat</strong></div>
<div></div>
<div>Tanda salib pertama-tama mengungkapkan iman dasar kristiani akan salib Kristus yang membawa penebusan dan keselamatan. Tanda salib menunjuk kuasa salib Kristus yang menyelamatkan dan tanda perlindungan Kristus terhadap kuasa jahat dan setan. Tanda salib yang disertai dengan seruan Allah Tritunggal mengungkapkan kenangan akan baptisan yaitu saat menjadi milik Kristus dan menyatakan pengakuan imannya. Pemberkatan dengan tanda salib atas orang atau benda mengungkapkan pelimpahan kuasa dan daya Allah yang menyelamatkan dan melambangkan bahwa orang atau benda yang diberkati itu adalah milik Kristus.</div>
<div></div>
<div><strong>Menebah Dada</strong></div>
<div></div>
<div>Menebah dada mengungkapkan penyesalan diri dan pertobatan, mengakui dirinya bersalah dan berdosa, ungkapan ketidakpantasan dan pengakuan dosa di hadapan Allah.</div>
<div></div>
<div><strong>Ciuman, Berpelukan, dan Jabatan Tangan</strong></div>
<div></div>
<div>Ciuman, berpelukan dan berjabat tangan mengungkapkan sikap hormat dan ikatan persaudaraan yang erat dan akrab. (Catatan: bentuk ungkapan penghormatan dan persaudaraan sangatlah tergantung pada budaya dan jaman tertentu).</div>
<div></div>
<div><strong>Pembasuhan Tangan</strong></div>
<div></div>
<div>Pembasuhan tangan atau kaki dengan air merupakan ungkapan permohonan agar Allah berkenan mengampuni dosa dan membersihkan dari kesalahan dan dosa.</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://purbowardayan.com/2023/10/22/setiap-gerakku-memiliki-makna/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
